Portalsembilan.com, BERAU — DPRD Kabupaten Berau menyoroti kondisi keuangan Perumda Air Minum Batiwakkal yang dinilai masih belum sehat secara struktural. Pendapatan perusahaan daerah tersebut disebut belum sepenuhnya ditopang dari penjualan air kepada pelanggan.
Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi Mangunsong, mengatakan salah satu sumber pemasukan terbesar perusahaan justru berasal dari pemasangan sambungan rumah (SR) baru, bukan dari layanan distribusi air itu sendiri.
“Dijual lebih rendah di bawah harga produksi. Tapi PDAM masih bisa bertahan, ini yang menjadi pertanyaan,” kata Rudi, Kamis,(07/5/2026).
Menurut dia, tarif air yang berlaku saat ini dinilai belum mampu menutup biaya produksi dan operasional perusahaan yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut membuat keuangan Perumda Batiwakkal dinilai belum ideal untuk keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.
“Artinya ada kegiatan lain yang dijadikan penopang. Ini tidak balance,” ujarnya.
Karena itu, DPRD Berau mulai mendorong adanya evaluasi terhadap tarif air minum sebagai salah satu langkah untuk menjaga keberlanjutan pelayanan Perumda Batiwakkal kepada masyarakat.
Meski demikian, Rudi menegaskan penyesuaian tarif tidak boleh dilakukan secara menyeluruh tanpa mempertimbangkan kemampuan ekonomi pelanggan. Ia mengusulkan agar kebijakan kenaikan tarif lebih dahulu diterapkan kepada kelompok pelanggan tertentu.
“Mungkin klaster tertentu dulu yang dikenakan penyesuaian tarif,” katanya.
Kelompok pelanggan yang dimaksud, lanjut dia, antara lain sektor industri, hotel, serta rumah tangga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas.
Selain evaluasi tarif, DPRD juga meminta Perumda Batiwakkal meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat apabila kebijakan penyesuaian tarif nantinya diterapkan. Langkah tersebut dinilai penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Jangan sampai masyarakat kaget. Sosialisasi harus dilakukan dengan baik,” ujar Rudi. (ADV/DPRD BERAU)

