Portalsembilan.com, BERAU – Potensi sektor tambak dan perikanan budidaya di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dinilai masih terbuka lebar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir. Namun, di tengah peningkatan produksi di sejumlah wilayah, persoalan pemasaran hasil panen masih menjadi tantangan utama yang perlu segera dibenahi.
Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami, mengatakan keberhasilan sektor budidaya tidak hanya ditentukan oleh tingginya produksi, tetapi juga sejauh mana hasil panen mampu terserap pasar dengan harga yang menguntungkan bagi petambak.
“Produksi yang tinggi tidak akan berarti banyak jika hasil panen sulit dipasarkan atau dijual dengan harga yang rendah. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat mendapatkan keuntungan yang layak dari usaha budidaya mereka,” kata Sutami, Kamis (28/5/2026).
Menurut dia, hingga saat ini masih banyak pembudidaya tambak yang menghadapi kendala dalam memasarkan hasil panen. Kondisi tersebut membuat nilai ekonomi yang diterima masyarakat belum sebanding dengan potensi besar sektor perikanan budidaya yang dimiliki Berau.
Karena itu, ia meminta pemerintah daerah melalui Dinas Perikanan mengambil peran lebih besar dalam memperkuat sistem pemasaran hasil tambak agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Sutami menilai perhatian pemerintah selama ini masih lebih banyak terfokus pada peningkatan produksi, sementara aspek hilir, khususnya pemasaran dan distribusi, belum mendapat perhatian optimal.
“Pendampingan harus dilakukan dari hulu sampai hilir. Jangan hanya fokus pada produksi, tetapi juga membantu masyarakat dalam menjual hasil panennya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan sektor tambak perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pemasaran produk agar manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat pesisir.
Selain penguatan pemasaran, Sutami juga menyoroti pentingnya dukungan infrastruktur dan transportasi yang memadai. Menurut dia, akses distribusi yang lancar akan membantu menjaga kualitas hasil perikanan sekaligus menekan biaya pengiriman dari lokasi tambak menuju pasar.
“Produksi meningkat, tapi manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat karena keterbatasan akses pasar,” kata dia. (ADV/DPRD BERAU)

