Portalsembilan.com, BERAU — Permasalahan air bersih yang masih berulang di wilayah pesisir dan kepulauan Kabupaten Berau kembali mendapat sorotan DPRD Berau. Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, mendorong pemerintah daerah mulai mempertimbangkan penerapan teknologi desalinasi atau penyulingan air laut sebagai solusi jangka panjang.
Menurut Sumadi, keterbatasan sumber air tawar masih menjadi persoalan utama di sejumlah kawasan kepulauan, terutama di Pulau Maratua. Kondisi tersebut dinilai semakin terasa ketika musim kemarau tiba dan debit sumber air menurun.
“Apalagi kalau musim kemarau, ketika debit air menurun,” kata Sumadi, Selasa (26/5/2026).
Ia menjelaskan, selama ini masyarakat di wilayah kepulauan masih mengandalkan sumber mata air alami dan penampungan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Namun, menurut dia, ketergantungan pada sumber terbatas tersebut tidak lagi memadai, terlebih di tengah pertumbuhan sektor pariwisata.
Sumadi menilai kebutuhan air bersih tidak hanya penting bagi masyarakat setempat, tetapi juga menjadi faktor penunjang kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke destinasi unggulan Berau.
“Wilayah kepulauan memang perlu solusi permanen. Salah satunya melalui teknologi penyulingan air laut menjadi air tawar,” ujarnya.
Menurut dia, usulan pengadaan alat desalinasi sebenarnya telah beberapa kali disampaikan DPRD Berau sebagai alternatif untuk membantu masyarakat pesisir dan kepulauan memperoleh akses air bersih secara lebih berkelanjutan.
Teknologi tersebut dianggap lebih efektif dibanding hanya mengandalkan sumber mata air alami atau tampungan air hujan yang kapasitasnya terbatas dan bergantung pada kondisi cuaca.
Sumadi menyebutkan, estimasi biaya pengadaan fasilitas desalinasi berkisar antara Rp2 miliar hingga Rp5 miliar. Angka itu, kata dia, masih tergolong realistis jika dibandingkan dengan urgensi kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih.
Selain menunjang kebutuhan domestik warga, ketersediaan air bersih juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan sektor pariwisata di wilayah kepulauan Berau, termasuk Pulau Maratua yang menjadi salah satu destinasi unggulan.
Ia mengingatkan, peningkatan jumlah penduduk dan kunjungan wisatawan dapat memicu tekanan terhadap sumber air yang tersedia apabila tidak diantisipasi sejak dini.
“Kalau kebutuhan air terus meningkat sementara sumbernya terbatas, tentu lama-kelamaan tidak akan mencukupi,” tuturnya.
Karena itu, Sumadi meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau segera melakukan kajian teknis mengenai kemungkinan penerapan teknologi desalinasi di wilayah kepulauan.
Selain kajian teknis, ia juga mendorong pemerintah daerah melakukan studi banding ke daerah lain yang telah menerapkan teknologi serupa guna mempelajari kesiapan infrastruktur, sistem operasional, hingga efektivitas penggunaannya.
“Kalau memang sumber air di Maratua sudah tidak memadai, maka harus ada langkah konkret mencari alternatif lain,” kata Sumadi. (ADV/DPRD BERAU)

