Portalsembilan.com LOA KULU – Ribuan tumpeng bukan sekadar sajian dalam sebuah pesta rakyat. Di Loa Kulu, tradisi tersebut menjadi ruang perjumpaan masyarakat, tempat kesenian tradisional kembali mengambil panggung, sekaligus menjadi momentum memperkuat kebersamaan warga. Gelar Budaya Festival 1.000 Tumpeng dan Pentas Kesenian Jaranan serta Reog di Lapangan Bola Desa Loa Kulu Kota, Kecamatan Loa Kulu, Rabu (26/8/2026) malam, berlangsung meriah dalam pengamanan kepolisian.
Kapolsek Loa Kulu AKP H. Hari Supranoto, S.H., M.H., memimpin langsung pengamanan kegiatan yang dimulai sekitar pukul 20.00 WITA tersebut. Kehadiran personel kepolisian tidak hanya diarahkan untuk mengantisipasi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), tetapi juga memastikan masyarakat dapat menikmati rangkaian pertunjukan budaya dengan rasa aman.
Ratusan warga tampak memadati kawasan lapangan untuk menyaksikan pertunjukan seni yang menjadi bagian dari kemeriahan festival. Sejumlah kelompok kesenian lokal turut tampil, di antaranya Turonggo Jalin Sampurno, New Turonggo Sekar Sari, dan Margosari Budoyo.
Bagi masyarakat, pertunjukan jaranan dan reog bukan sekadar hiburan malam. Di balik gerak, musik, dan atraksi yang disuguhkan, terdapat ekspresi kebudayaan yang terus dipertahankan di tengah perubahan zaman. Kehadiran kelompok-kelompok seni lokal dalam festival tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa ruang kesenian masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial masyarakat Loa Kulu.
Di tengah tingginya antusiasme warga, aspek keamanan menjadi bagian penting agar kemeriahan tidak berubah menjadi persoalan. Personel Polsek Loa Kulu ditempatkan di sejumlah titik untuk memantau situasi, mengatur kondisi di sekitar lokasi kegiatan, serta melakukan langkah pencegahan apabila muncul potensi gangguan.
Pengamanan juga melibatkan Kepala Desa Loa Kulu Kota Muhammad Rizal, Kanit Provos Aiptu Bahrir, jajaran Bhabinkamtibmas, personel Unit Reskrim, panitia penyelenggara, hingga tokoh masyarakat setempat.
Kapolsek Loa Kulu AKP H. Hari Supranoto mengatakan, keterlibatan kepolisian dalam kegiatan masyarakat merupakan bagian dari upaya menciptakan rasa aman sekaligus membangun kedekatan antara polisi dan warga.
“Kehadiran personel Polsek Loa Kulu di tengah masyarakat bertujuan untuk memberikan rasa aman selama festival budaya berlangsung. Kami mengapresiasi panitia dan seluruh elemen warga yang menjaga ketertiban, sehingga pentas seni tradisi ini berjalan lancar dan kondusif,” tegasnya.
Menurutnya, kegiatan kebudayaan yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Kepolisian tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga keamanan, sehingga kesadaran masyarakat untuk ikut memelihara ketertiban menjadi faktor penting dalam keberhasilan kegiatan.
Suasana festival pun menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya dan keamanan publik dapat berjalan beriringan. Masyarakat mendapatkan ruang untuk berekspresi dan menikmati kesenian, sementara penyelenggara bersama aparat memastikan seluruh rangkaian kegiatan tetap berada dalam koridor ketertiban.
Festival 1.000 Tumpeng tersebut akhirnya ditutup tanpa gangguan berarti. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan terkendali hingga selesai.
Lebih dari sekadar pesta rakyat, gelaran di Loa Kulu itu menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang yang mempertemukan banyak unsur masyarakat. Ketika tradisi dirawat, kesenian diberi panggung, dan keamanan dijaga bersama, sebuah festival tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.(YW)

