
Portalsembilan.com, Kutai Kartanegara – Semangat puluhan santri menimba ilmu agama di Pesantren Al-Ukhuwah Al-Islamiyah Wilayah Borneo, Jalan Silas Bell Kilometer 7, RT 12, Kelurahan Jahab, Kecamatan Tenggarong, masih dihadapkan pada keterbatasan fasilitas dasar. Dengan jumlah santri mencapai 53 orang diantaranya santriwan dan santriwati, pesantren tersebut hanya memiliki 10 kamar mandi yang digunakan bersama setiap hari.
Kondisi itu diungkapkan Pengasuh dan Pengajar Pesantren Al-Ukhuwah Al-Islamiyah, Rusdi, saat menerima bantuan sosial dari Komunitas Barisan Teman Sejati (BTS), Jumat (26/6/2026). Menurutnya, pembangunan kamar mandi menjadi kebutuhan paling mendesak yang saat ini diharapkan dapat terwujud melalui dukungan berbagai pihak.
“Yang paling kami butuhkan saat ini adalah tambahan kamar mandi. Santri kami ada 53 orang, sementara kamar mandi hanya 10. Setiap menjelang Subuh mereka harus mengantri untuk mandi. Kadang ada yang terlambat,ada yang sampai ketiduran di depan wc. Bahkan tidak sempat mandi karena waktu salat sudah masuk,” ujar Rusdi.
Ia menjelaskan, para santri yang tinggal di pesantren tidak hanya berasal dari Tenggarong, tetapi juga datang dari berbagai daerah di Kalimantan, seperti Kalimantan Selatan, Penajam Paser Utara, Kutai Timur, Sangatta hingga Bengalon.
Mayoritas santri merupakan anak yatim. Namun, ada pula yang masih memiliki orang tua, tetapi dititipkan di pesantren karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Menurut Rusdi, sebagian orang tua masih berusaha membantu kebutuhan anak-anak mereka sesuai kemampuan. Bahkan, ada yang hanya mampu memberikan uang jajan sederhana.
“Di sini kami menyediakan kantin. Setiap anak mendapat uang jajan sekitar Rp5.000 per hari agar mereka tidak merasa berbeda dengan teman-temannya,” tuturnya.
Untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari, termasuk konsumsi para santri, pesantren lebih banyak mengandalkan kepedulian masyarakat. Bantuan yang diterima umumnya berupa beras, sayur-mayur, hingga bahan kebutuhan pokok lainnya.
Rusdi mengungkapkan, selama tujuh tahun berdiri, pesantren belum pernah menerima bantuan dari pemerintah secara kelembagaan.
“Kalau secara institusi pemerintah belum pernah ada bantuan. Kalaupun ada, sifatnya bantuan pribadi dari beberapa pejabat yang datang ke sini,” katanya.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan di pesantren yang selama ini menjalankan fungsi sosial bagi anak-anak yatim dan kurang mampu.
“Ini bukan hanya tanggung jawab kami sebagai pengasuh, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan anak-anak ini mendapatkan pendidikan agama dan kehidupan yang layak. Kami berharap pemerintah bisa melihat kondisi kami,” harapnya.
Saat ini, Pesantren Al-Ukhuwah Al-Islamiyah didukung oleh 11 tenaga pengajar yang seluruhnya tinggal di lingkungan pesantren. Mereka membimbing para santri dalam pendidikan agama maupun pembinaan karakter.
Di sisi lain, kepedulian masyarakat masih menjadi penopang utama keberlangsungan pesantren. Menurut Rusdi, setiap bulan Ramadan banyak warga maupun dermawan yang datang membawa bantuan makanan dan kebutuhan pokok. Namun, saat Hari Raya Iduladha, bantuan hewan kurban masih sangat terbatas dan bahkan beberapa kali tidak tersedia.
Penyaluran bantuan dari Komunitas Barisan Teman Sejati (BTS) pada Jumat (26/6/2026) pun menjadi bentuk nyata kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan pendidikan di pesantren tersebut. Rusdi berharap semakin banyak pihak yang tergerak untuk membantu, sehingga keterbatasan fasilitas yang selama ini dihadapi dapat segera teratasi, terutama pembangunan kamar mandi yang menjadi kebutuhan paling mendesak bagi puluhan santri.
(Yeni A.Y)

