Portalsembilan.com, BERAU – Potensi perikanan di wilayah pesisir Kabupaten Berau dinilai belum sepenuhnya berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan nelayan. Sejumlah persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan fasilitas penunjang hingga akses bahan bakar, masih menjadi hambatan bagi masyarakat pesisir dalam mengembangkan usaha perikanan.
Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi Mangunsong, mengatakan sebagian besar nelayan di Berau masih bergantung pada peralatan tangkap sederhana dan belum memiliki fasilitas penyimpanan hasil laut yang memadai.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat hasil tangkapan nelayan tidak dapat bertahan lama sehingga harus segera dijual meski harga di pasaran sering tidak stabil.
“Kalau hasil tangkapan tidak bisa disimpan dengan baik, nelayan harus menjual cepat dengan harga yang tidak stabil. Ini yang harus kita benahi,” ujar Rudi, Senin (11/5/2026).
Ia menilai keberadaan fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage sangat penting untuk membantu nelayan menjaga kualitas hasil tangkapan sekaligus meningkatkan nilai jual ikan.
Selain persoalan fasilitas, Rudi juga menyoroti akses bahan bakar minyak (BBM) yang hingga kini masih menjadi keluhan utama nelayan di sejumlah wilayah pesisir.
Menurut dia, ketersediaan BBM dengan harga terjangkau menjadi faktor penting untuk menunjang aktivitas melaut, terutama bagi nelayan kecil yang bergantung pada kapal berkapasitas terbatas.
“Kalau biaya operasional tinggi, tentu penghasilan nelayan ikut tertekan. Karena itu akses BBM harus benar-benar diperhatikan,” katanya.
Rudi menambahkan, pemerintah daerah juga perlu memperkuat pembinaan terhadap nelayan, khususnya terkait penerapan metode penangkapan ikan yang ramah lingkungan.
Ia menegaskan peningkatan kesejahteraan nelayan harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan ekosistem laut.
“Kita ingin nelayan sejahtera, tapi juga harus menjaga ekosistem laut agar tetap lestari untuk jangka panjang,” ucapnya. (ADV/DPRD BERAU)

