Portalsembilan.com, Kutai Kartanegara – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kutai Kartanegara terus menggencarkan program “Satpol PP Ghost to School” sebagai langkah preventif menekan kenakalan remaja di lingkungan sekolah.
Program edukasi terkait disiplin, bahaya bullying, dan penyalahgunaan zat berbahaya itu kembali digelar di SMK Geologi Pertambangan Tenggarong, Jalan Mawar 3 No. 27, Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong, Rabu (29/4/2026).
Kepala Satpol PP Kukar Arfan Boma Pratama melalui Kasi Penyelidikan dan Penyidikan, Awang Indra, mengatakan kegiatan tersebut merupakan implementasi penegakan Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Kepala Daerah (Perkada) melalui pendekatan edukatif.
” Fokus kami mengurangi kenakalan remaja, terutama soal disiplin, bullying, serta penyalahgunaan zat seperti lem, alkohol, dan sejenisnya,” ujar Awang.
Ia menjelaskan, sepanjang April 2026 pihaknya menargetkan lima sekolah sebagai sasaran program. Tiga sekolah telah dikunjungi, yakni SMA YPK, SMK YPK, dan SMK Geologi Pertambangan Tenggarong.
“Selanjutnya kami ke SMK Ketopong dan SMA Negeri 2 Tenggarong. Setelah itu, program ini akan diperluas ke tingkat SMP,” katanya.
Menurut Awang, persoalan bullying menjadi perhatian serius karena dampaknya terhadap kondisi psikologis pelajar.
“Kami pernah menangani pelajar yang mengalami trauma berat akibat bullying hingga harus melibatkan Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan,” ungkapnya.
Ia menilai, kasus bullying saat ini lebih banyak terjadi secara verbal dan dipicu pengaruh media sosial.
“Bullying verbal lebih dominan dibanding fisik. Ini yang paling sering kami temukan di lapangan,” tegasnya.
Sementara itu, pihak SMK Geologi Pertambangan Tenggarong menyambut baik kegiatan tersebut. Leni Legawati, SP, S.Pd, mengatakan sosialisasi semacam ini sangat membantu pihak sekolah dalam memberikan pemahaman kepada siswa.
“Bullying sering berawal dari candaan, tapi jika terus berulang bisa berdampak pada psikologis anak hingga malas sekolah,” ujarnya.
Ia berharap program serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan peserta lebih banyak agar edukasi yang diberikan semakin efektif.
“Kalau ada indikasi masalah di sekolah, kami selalu cepat tanggap agar tidak berkembang menjadi kasus serius,” pungkasnya.
(Yeni Adhayanti)

