Portalsembilan.com, Kutai Kartanegara – Aktivitas penjualan aksesoris khas daerah di kawasan Museum Mulawarman masih menjadi bagian penting dalam mendukung geliat wisata budaya di Kutai Kartanegara.
Salah satu pedagang, Mama Siti, mengaku telah berjualan sejak 2003 meski bukan warga asli daerah. Selama lebih dari dua dekade, ia bertahan dengan menjajakan berbagai produk khas Kutai, mulai dari kain tradisional hingga aksesoris buatan tangan.
“Sudah lama di sini, dari 2003. Jualan biasa saja, paling ramai saat hari besar seperti Lebaran atau event,” ujarnya.
Ia menyebut, pendapatan penjualan mengalami peningkatan pada periode 2020 hingga 2023. Dalam kondisi ramai, omzet harian bahkan bisa mencapai sekitar Rp1,5 juta, meski saat ini masih cenderung fluktuatif.
Untuk berjualan di kawasan museum, pedagang dikenakan biaya sewa lapak sekitar Rp400 ribu yang dikelola pihak terkait. Namun, menurutnya, tingkat keramaian pengunjung lebih tinggi di area luar dibandingkan di dalam kawasan tertentu museum.
Produk yang dijual didominasi kain khas Kutai serta aksesoris seperti gelang “buyu” untuk bayi. Sebagian barang dibuat sendiri dengan merakit bahan yang dibeli, sementara lainnya merupakan hasil produksi yang kemudian dijual kembali.
Meski belum merambah penjualan daring, Mama Siti tetap mengandalkan penjualan langsung kepada pengunjung. Ia juga mengaku belum pernah menerima pesanan khusus dalam jumlah besar, termasuk saat perhelatan budaya seperti Erau.
Keberadaan pedagang aksesoris ini turut menambah daya tarik wisata di Museum Mulawarman, sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian produk kerajinan khas Kutai di tengah perkembangan zaman.
(Yeni Adhayanti)

