PortalSembilan.com, TENGGARONG — Pelestarian seni tradisi tidak selalu harus berlangsung di tempat asalnya. Di Tenggarong, Kutai Kartanegara, pengetahuan Tari Klasik Gaya Yogyakarta mulai menemukan ruang baru melalui Afternoon Flower Class, salah satu subprogram Komunitas Odah Kaminari Indonesia yang membuka pembelajaran tari bagi masyarakat lintas usia dan latar belakang budaya.
Ruang belajar tersebut digagas Rini Utami, M.Sn., Direktur Komunitas Odah Kaminari Indonesia yang lahir di Yogyakarta dan merupakan lulusan Pascasarjana ISI Yogyakarta. Saat ini, Rini juga mengabdikan diri sebagai dosen Program Studi Tari di ISBI Kalimantan Timur.
Kehadiran Afternoon Flower Class menjadi upaya mempertemukan pengetahuan seni yang tumbuh dari tradisi Yogyakarta dengan lingkungan sosial dan budaya Kalimantan Timur. Bagi Rini, perpindahan ruang belajar tersebut bukan sekadar memindahkan materi tari dari satu daerah ke daerah lain, melainkan membuka kemungkinan baru bagi tradisi untuk dipahami oleh masyarakat dengan latar budaya yang beragam.
“Afternoon Flower Class menjadi salah satu ruang bagi saya untuk tetap merawat dan membagikan pengetahuan tari yang saya dapatkan sejak di Yogyakarta, tetapi dengan konteks dan lingkungan yang berbeda di Kalimantan Timur,” ujar Rini.
Untuk pertama kalinya, pada 22 September 2026, kelas tersebut menampilkan Tari Sekar Pudyastuti yang dibawakan lima penari, yakni Marsha, Rini, Andini, Reza, dan Sella. Penampilan tersebut menjadi penanda awal keberadaan kelas sekaligus memperlihatkan bahwa pembelajaran Tari Klasik Gaya Yogyakarta dapat tumbuh di luar wilayah asalnya.
Menariknya, kelas ini tidak dibatasi oleh identitas etnis maupun usia. Masyarakat yang bukan berlatar belakang Jawa tetap memiliki kesempatan untuk mempelajari tari tersebut selama memiliki ketertarikan dan kemauan untuk belajar.
Bagi Rini, keterbukaan itu menjadi bagian penting dari proses pelestarian seni tradisi. Ketika sebuah tradisi dipelajari dengan pemahaman dan penghormatan yang tepat, perbedaan latar belakang justru dapat menjadi ruang pertukaran budaya.
“Tidak harus orang Jawa untuk belajar Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Ketika sebuah tradisi dipelajari dengan baik dan dihargai, di situlah terjadi proses pertukaran budaya yang sehat,” katanya.
Lebih dari sekadar rangkaian gerak, Tari Klasik Gaya Yogyakarta memiliki landasan filosofi yang dikenal melalui konsep Joged Mataram. Empat prinsip utama di dalamnya, yakni sawiji, greged, sengguh, dan ora mingkuh, menjadi bagian dari nilai yang dapat dipahami penari, tidak hanya ketika berada di ruang latihan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, proses pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan menghafal koreografi. Tari Sekar Pudyastuti, misalnya, menuntut ketelitian dalam sikap tubuh, posisi tangan, kepala, arah pandangan, koordinasi, pengaturan tenaga, tempo, hingga penghayatan terhadap karakter gerak.
“Dalam tari klasik, gerak tidak hanya dilakukan berdasarkan hafalan. Ada detail-detail kecil yang harus diperhatikan, mulai dari posisi tubuh, tangan, kepala, pandangan, hingga kualitas tenaga yang diatur dengan jelas,” jelas Rini.
Menurutnya, tantangan utama dalam mempelajari tari klasik justru terletak pada kemampuan menyatukan teknik dengan rasa. Penari tidak cukup hanya mengetahui urutan gerak, tetapi juga perlu memahami mengapa gerak tersebut dilakukan dengan kualitas tertentu.
Dari proses itulah, latihan tari kemudian dapat berkembang menjadi pembelajaran mengenai disiplin, etika, konsentrasi, pengendalian diri, serta penghargaan terhadap akar budaya sebuah karya.
Rini berharap Afternoon Flower Class dapat berkembang secara konsisten di Tenggarong dan menjadi ruang pembelajaran seni yang dapat diikuti berbagai kelompok usia, mulai dari generasi muda hingga masyarakat yang memasuki usia lanjut.
Menurutnya, tari tidak mengenal batas usia. Selama terdapat kemauan dan tekad untuk belajar, setiap orang dapat memperoleh pengalaman artistik sekaligus manfaat dari aktivitas tubuh yang dilakukan secara terarah.
Ke depan, Afternoon Flower Class diharapkan tidak hanya menjadi tempat mempelajari teknik menari, tetapi juga ruang untuk mengenal filosofi, sejarah, etika, disiplin, serta nilai-nilai yang melekat pada seni tradisi.
“Jangan takut belajar tradisi, tetapi jangan berhenti pada sekadar bisa menarikan geraknya. Kenali dari mana sebuah karya berasal, pahami konteksnya, hormati tradisinya, lalu temukan cara untuk terus menghidupkannya sesuai zaman,” pesan Rini.
Bagi Rini, pelestarian tradisi bukan berarti menjadikannya sebagai sesuatu yang beku dan hanya disimpan sebagai warisan masa lalu. Tradisi justru perlu diberi ruang untuk dipelajari, dipahami, dan diwariskan kembali kepada generasi berikutnya.
“Tidak harus pergi jauh ke Jawa untuk mulai mengenal Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Kita bisa mulai belajar bersama dari Tenggarong,” pungkasnya.
Penulis : (YW)

