PortalSembilan.com, TENGGARONG — Ketika permainan digital semakin mendominasi keseharian anak-anak dan remaja, sebuah komunitas di Kabupaten Kutai Kartanegara justru memilih mempertahankan permainan tradisional sebagai ruang tumbuh generasi. Di Jalan Mangkuraja Gang Citra Baru RT 23 Nomor 30, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, suara putaran gasing terus menjadi bagian dari aktivitas masyarakat melalui Mangkuraja Gasing Community atau dengan nama singkatan MGC ,( 23/21/26) .
Mangkuraja Gasing Community atau yang dikenal dengan sebutan MGC telah berdiri sejak sekitar 2014. Komunitas tersebut tumbuh dari kecintaan terhadap olahraga tradisional gasing sekaligus menjadi wadah bagi masyarakat untuk mempertahankan permainan yang memiliki keterkaitan erat dengan budaya lokal Kutai.
Menariknya, perjalanan MGC tidak hanya bertumpu pada generasi terdahulu. Para sesepuh yang sejak awal turut menjaga keberadaan komunitas hingga kini masih aktif dan tetap solid bersama anggota lainnya. Di sisi lain, regenerasi juga terus berlangsung dengan hadirnya anak-anak usia sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), hingga kalangan anak muda.
Komposisi lintas generasi tersebut menjadi kekuatan tersendiri bagi MGC. Gasing tidak sekadar dimainkan sebagai hiburan, tetapi menjadi media untuk mempertemukan generasi berbeda dalam satu aktivitas yang mengandung unsur olahraga, keterampilan, kebersamaan, dan pelestarian budaya.
Ketua Mangkuraja Gasing Community, Aji Ahmad Martha Gazali, yang akrab disapa Aji Ori, menjadi salah satu sosok yang turut menggerakkan keberlangsungan komunitas tersebut. Bersama jajaran dan para anggota, ia terus menjaga agar aktivitas MGC dapat berkembang sekaligus memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal olahraga tradisional.
Pembinaan juga mendapat perhatian dari Aji Ahmad Ainuddin selaku pembina. Perannya tidak hanya berkaitan dengan pembinaan pemain, tetapi juga memperkuat komitmen untuk mempertahankan olahraga gasing sebagai bagian dari permainan tradisional di Kutai.
Upaya tersebut dinilai penting karena pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui pengenalan secara teori. Anak-anak perlu diberikan kesempatan untuk mengalami, memainkan, mempelajari teknik, sekaligus memahami nilai yang terkandung di dalam permainan tradisional tersebut.
Dari proses pembinaan itu, MGC secara bertahap mampu melahirkan pemain-pemain yang berprestasi. Dari tahun ke tahun, komunitas ini tercatat terus mengikuti berbagai pertandingan dan meraih sejumlah prestasi dalam olahraga gasing.
Pencapaian terbaru kembali ditorehkan MGC dalam ajang Gasing se-Kalimantan Timur 2026. Dalam kategori beregu, para pemain MGC berhasil meraih juara 1, juara 2, dan juara 3. Prestasi tersebut menjadi catatan penting dalam perjalanan komunitas sekaligus pengalaman berharga bagi para pemain dan pecinta gasing.
Keberhasilan itu menunjukkan bahwa permainan tradisional memiliki potensi untuk berkembang menjadi cabang olahraga yang kompetitif ketika mendapatkan ruang pembinaan secara berkelanjutan. Di saat yang sama, kompetisi menjadi sarana untuk memperkenalkan gasing kepada masyarakat yang lebih luas.
Bagi MGC, keberadaan komunitas bukan semata-mata tentang memenangkan pertandingan. Ada misi yang lebih panjang, yakni memastikan gasing tetap dikenal oleh generasi muda dan tidak kehilangan tempat di tengah perubahan zaman.
Keterlibatan anak-anak dan remaja dalam komunitas menjadi salah satu indikator bahwa regenerasi terus berjalan. Mereka tidak hanya menjadi penonton dari warisan budaya generasi sebelumnya, tetapi ikut menjadi pelaku yang nantinya memiliki tanggung jawab meneruskan tradisi tersebut.
Solidnya hubungan antara pemain senior dan anggota muda juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat tumbuh secara alami melalui komunitas. Pengalaman para sesepuh bertemu dengan energi generasi muda, menciptakan ruang belajar yang memungkinkan pengetahuan mengenai gasing terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dengan prestasi dan regenerasi yang terus berjalan, Mangkuraja Gasing Community menjadi salah satu gambaran bahwa tradisi lokal masih dapat bertahan di tengah perubahan zaman. Dari sebuah komunitas di Gang Citra Baru, Loa Ipuh, putaran gasing terus dijaga agar tidak sekadar menjadi kenangan masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai bagian dari aktivitas olahraga dan budaya masyarakat Kutai Kartanegara.(YW)

