
Portalsembilan.com, Kutai Kartanegara – Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk mempercepat penyelesaian pembangunan Lapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong yang telah terbengkalai selama hampir lima tahun. Menurutnya, penyelesaian fasilitas pemasyarakatan tersebut bukan semata persoalan infrastruktur, melainkan bentuk nyata pemenuhan aspek kemanusiaan bagi ratusan warga binaan yang saat ini hidup dalam kondisi kelebihan kapasitas.
Didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur Sri Wahyuni, Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara Sunggono, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Timur Endang Lintang Hardiman, serta Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong Riva Dilyanti, Rudy Mas’ud meninjau langsung kondisi lapas, Jumat (3/7/2026).
Kunjungan diawali dengan peninjauan gedung pembangunan Lapas Perempuan yang hingga kini belum difungsikan, dilanjutkan melihat ruang keterampilan warga binaan dan berdialog langsung dengan penghuni lapas.
Dalam keterangannya kepada awak media, Rudy Mas’ud mengatakan kunjungan tersebut bertujuan meninjau secara langsung kondisi warga binaan, pelaksanaan program pembinaan, serta progres pembangunan gedung Lapas Perempuan Tenggarong yang telah terbengkalai selama hampir lima tahun.
Ia mengungkapkan, Lapas Perempuan Tenggarong yang memiliki kapasitas ideal sekitar 135 warga binaan saat ini dihuni lebih dari 340 hingga 350 orang. Kondisi itu mengakibatkan tingkat hunian mengalami kelebihan kapasitas lebih dari 200 persen, bahkan mendekati 300 persen, sehingga dinilai perlu segera mendapat perhatian serius dari pemerintah.
“Ini menyangkut persoalan kemanusiaan. Ruang hunian menjadi sangat padat dan pengap sehingga perlu mendapat perhatian serius. Pemerintah harus hadir memberikan tempat pembinaan yang lebih layak,” ujarnya.
Rudy mengatakan, berdasarkan laporan pihak lapas, masih terdapat warga binaan perempuan asal Kalimantan Timur yang harus ditempatkan di lapas laki-laki karena keterbatasan kapasitas. Apabila pembangunan gedung baru dapat diselesaikan, fasilitas tersebut diproyeksikan mampu menampung hingga sekitar 1.000 warga binaan perempuan.
Dengan demikian, Lapas Perempuan Tenggarong diharapkan menjadi pusat pembinaan perempuan bagi seluruh wilayah Kalimantan Timur.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan anggaran sekitar Rp28 miliar. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara telah mengalokasikan Rp8 miliar, sehingga masih dibutuhkan tambahan sekitar Rp20 miliar.
“Penyelesaiannya sedang kami upayakan. Mudah-mudahan bisa masuk dalam perencanaan anggaran pemerintah provinsi. Kalau memungkinkan melalui pergeseran anggaran akan kami percepat, tetapi kemungkinan besar direalisasikan pada tahun depan,” katanya.
Rudy menegaskan, pembangunan lapas tidak boleh dipandang sebagai beban anggaran semata.
“Ini bukan persoalan efisiensi anggaran, tetapi persoalan kemanusiaan. Saudara-saudara kita yang sedang menjalani masa pembinaan juga berhak mendapatkan fasilitas yang layak,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong Riva Dilyanti menyampaikan bahwa kondisi hunian saat ini sudah tidak lagi sebanding dengan kapasitas yang tersedia. Ia berharap dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dapat mempercepat penyelesaian pembangunan sehingga pelayanan pembinaan terhadap warga binaan dapat berjalan lebih optimal.
Dalam kesempatan tersebut, Rudy juga memberikan motivasi kepada para warga binaan agar menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan memperbaiki diri. Menurutnya, lapas bukan sekadar tempat menjalani hukuman, tetapi ruang untuk membangun masa depan melalui berbagai program pembinaan keterampilan.
Ia bahkan meminta agar hasil karya warga binaan, baik kerajinan maupun produk olahan makanan, dapat dipromosikan dalam berbagai kegiatan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sebagai bentuk dukungan terhadap proses reintegrasi sosial setelah mereka kembali ke masyarakat.
Kunjungan kerja Gubernur Kalimantan Timur berakhir sekitar pukul 09.15 Wita sebelum rombongan melanjutkan agenda menuju Kecamatan Kota Bangun. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman,tertib, dan kondusif.
(Yeni A.Y)

