Foto: DISKOMINFOSTANDI
MAHAKAM ULU, Portalsembilan – Seluruh Kepala Sekolah Dasar (SD) baik negeri maupun swasta di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) berkumpul di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kampung Ujoh Bilang pada Jumat (05/06/2026). Melalui Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Mahulu, para pendidik ini mengikuti agenda Penguatan Sekolah Aman dan Nyaman serta Implementasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7 KAIH).
Agenda intensif yang bergulir selama tiga hari (4–6 Juni 2026) ini dirancang sebagai wadah strategis untuk memperkuat komitmen para kepala sekolah. Tujuannya adalah menciptakan atmosfer pendidikan dasar yang inklusif, ramah anak, sekaligus menerapkan fondasi kebiasaan positif secara menyeluruh.
Saat membuka acara, Sekretaris Disdikbud Mahulu, Bungai, S.E., membacakan sambutan tertulis yang menekankan bahwa fungsi sekolah saat ini telah bergeser. Lembaga pendidikan tidak boleh lagi dipandang sekadar tempat mentransfer ilmu, melainkan harus bertransformasi menjadi ruang yang menjamin ketenangan psikologis anak.
“Tahun 2026 ini merupakan momentum bagi kita untuk semakin memperkuat pondasi pendidikan. Sekolah bukan sekadar gedung tempat belajar-mengajar, melainkan ekosistem yang harus menjamin rasa aman dan nyaman bagi setiap peserta didik. Sekolah yang nyaman akan melahirkan kreativitas, dan sekolah yang aman akan menumbuhkan karakter yang kuat,” ujarnya.
Bungai juga menggarisbawahi bahwa keberhasilan penanaman karakter lewat G7 KAIH sangat bergantung pada keteladanan para pimpinan di satuan pendidikan masing-masing.
“Saya berharap G7 KAIH tidak berhenti sebagai program atau slogan semata, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam budaya sekolah sehari-hari. Kepala sekolah harus menjadi teladan utama agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang berkarakter kuat, cerdas, dan berakhlak mulia,” tegasnya.
Di sisi lain, Kepala Seksi Pendidikan Dasar Disdikbud Mahulu, Cecilia Erika Marthina, S.Psi, menjelaskan bahwa forum K3S ini sekaligus berfungsi sebagai ruang mitigasi bersama. Mengingat letak geografis Mahulu yang berada di pedalaman, para kepala sekolah dituntut aktif berdiskusi mencari solusi atas kendala administratif maupun logistik di lapangan.
Dari dinamika diskusi tersebut, para peserta berhasil menelurkan kesepakatan konkret. Seluruh kepala sekolah berkomitmen menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) formal guna mencegah aksi perundungan (bullying) serta memutus rantai kekerasan di lingkungan sekolah.
Tidak hanya merancang regulasi pengamanan anak, masing-masing sekolah juga langsung menyusun rencana aksi penerapan G7 KAIH. Menariknya, gerakan karakter nasional ini nantinya akan disuntikkan secara kreatif dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal khas Mahakam Ulu.
Meskipun wilayah hulu Mahakam masih dihadapkan pada keterbatasan akses transportasi serta tantangan digitalisasi, kekompakan yang terbangun dalam forum ini diharapkan mampu mengerek mutu pendidikan dasar. Sinergi ini menjadi modal utama Pemkab Mahulu dalam mencetak generasi masa depan yang cerdas, berbudaya, dan tangguh. (adv/Mahakam Ulu)

