Portalsembilan.com, Kutai Kartanegara – Kerajinan tenun ulap doyo khas Kalimantan Timur terus dijaga eksistensinya oleh para perajin lokal. Salah satunya Imam Rojiki, owner Pokant Takaq yang berlokasi di Jalan Mangkuraja 6, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong.
Imam mengungkapkan, keterampilannya menenun ulap doyo merupakan warisan turun-temurun dari orang tua. Namun, ia baru benar-benar menekuni kerajinan tersebut setelah berumah tangga.
“Sejak kecil sudah tahu karena melihat orang tua. Tapi mulai serius menekuni setelah berkeluarga,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Menurutnya, produk ulap doyo umumnya menyasar kalangan ibu-ibu dan digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti pakaian hingga tas. Meski belum melakukan ekspor secara resmi, hasil tenunnya pernah dikirim ke sejumlah negara seperti Perancis, Jerman, Australia, hingga Jepang melalui pesanan butik luar negeri.
Namun demikian, peluang pasar internasional masih menghadapi kendala, terutama pada standar kualitas yang tinggi.
“Permintaan dari luar negeri itu rumit, seperti sambungan harus rapi satu jalur dan warna harus putih semua. Itu yang belum bisa dipenuhi semua pengrajin,” jelasnya.
Dari sisi harga, kain ulap doyo dijual bervariasi tergantung ukuran dan bahan. Untuk lebar 30 sentimeter dibanderol Rp250 ribu hingga Rp350 ribu, sedangkan lebar 60 sentimeter bisa mencapai Rp550 ribu untuk serat asli. Jika sudah diwarnai, harganya bisa menembus Rp600 ribu, bahkan mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta lebih jika dipadukan dengan benang katun atau sutra.
Dalam proses produksi, Imam menyebut tantangan terbesar terletak pada pembuatan motif. Motif ulap doyo memiliki filosofi kuat yang diwariskan leluhur, seperti motif harimau untuk penguasa, naga untuk kalangan tertentu, hingga motif flora dan fauna lainnya.
“Tidak semua orang bisa membuat motif, karena setiap motif punya makna dan aturan tersendiri sejak zaman kerajaan,” ungkapnya.
Bahan baku serat doyo saat ini masih banyak diperoleh dari wilayah Kutai Barat. Di Kutai Kartanegara sendiri, keberadaan tanaman doyo mulai berkurang akibat alih fungsi lahan menjadi tambang dan perkebunan sawit.
Meski demikian, Imam bersama kelompoknya yang beranggotakan sekitar 35 orang tetap berupaya mempertahankan produksi sebagai bagian dari pelestarian budaya. Ia menyebut, menenun dulunya merupakan pekerjaan sampingan masyarakat saat tidak ke kebun, terutama saat musim hujan.
Ulap doyo sendiri merupakan kain tenun asli masyarakat Dayak Benuaq di Kalimantan Timur, yang memiliki nilai historis dan budaya tinggi. Berawal dari serat daun doyo yang diolah secara tradisional, kain ini dulunya digunakan sebagai pakaian adat berupa rok atau “ulap”.
“Ini identitas budaya kita. Dari dulu sampai sekarang motifnya tetap diwariskan, tidak berubah, kecuali yang sudah dikembangkan secara kontemporer,” tutupnya.
(Yeni Adhayanti)

