Portalsembilan.com, Kutai Kartanegara – Satu tahun duduk di kursi parlemen bukan sekadar urusan serap aspirasi dan rapat komisi bagi Rahmat Dermawan. Anggota Komisi II DPRD Kutai Kartanegara ini memilih cara tak lazim untuk mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada publik: melalui media seluloid.
Sebuah film dokumenter bertajuk “Penyambung Lidah Rakyat” resmi diluncurkan. Karya ini bukan sekadar narsisme politik, melainkan rekam jejak emosional seorang legislator dalam mengawal denyut nadi pembangunan di daerah pemilihannya.
“Awalnya hanya dokumentasi kegiatan relawan. Namun, kami melihat ada narasi besar tentang bagaimana amanah itu dijalankan. Ini adalah laporan pertanggungjawaban visual kepada rakyat,” ungkap politisi muda ini.
Film ini membedah sisi personal Rahmat yang jarang tersorot. Jauh dari kemewahan politik, ia tumbuh dari rahim keluarga sederhana ibunya seorang pedagang dan ayahnya petani. Latar belakang inilah yang menjadi kompas moralnya dalam berpolitik.
Nama “Penyambung Lidah Rakyat” sendiri merupakan refleksi mendalam Rahmat atas buku biografi Bung Karno yang dihadiahkan oleh mentornya, Muhammad Samsun, Mendalami filosofi perjuangan Soekarno, Menggambarkan proses kebijakan dari meja rapat hingga realisasi di lapangan, Menekankan bahwa politik adalah “pisau” yang manfaatnya tergantung pada integritas pemegangnya.
Pasca-Lebaran, Rahmat menjadwalkan agenda nonton bareng (nobar) di empat kecamatan basis massanya Samboja, Samboja Barat, Muara Jawa, dan Sanga-Sanga. Agenda ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka antara warga dan wakilnya.
Ia berharap, lewat visualisasi ini, generasi muda di wilayah pesisir tidak lagi memandang politik sebagai barang kotor.
“Baik buruknya kebijakan yang kita rasakan hari ini adalah buah dari keputusan politik masa lalu. Generasi muda harus melek, karena politik adalah instrumen penentu arah daerah,” tegasnya.
Lewat layar lebar ini, Rahmat Dermawan ingin menitipkan pesan konsistensi bahwa suara rakyat tak boleh terhenti di kotak suara, melainkan harus terus bergema di gedung parlemen.
(Yeni Adhayanti)

