
Portalsembilan.com, Kutai Kartanegara – Permainan tradisional gasing yang selama ini identik dengan warisan budaya masyarakat Kutai mulai diarahkan menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus memiliki nilai ekonomi. Melalui kolaborasi lintas komunitas, pegiat budaya, pelaku usaha, hingga Duta Budaya, pengembangan gasing tidak lagi hanya berfokus pada pelestarian, tetapi juga diproyeksikan menjadi industri kreatif berbasis budaya yang mampu menarik minat generasi muda.
Gagasan tersebut mengemuka dalam agenda perdana bertajuk budaya yang digelar di Coffe Comunitas, Jalan Robert Wolter Mongisidi KM 4, Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong, Sabtu (27/6/2026) malam. Kegiatan ini menjadi langkah awal membangun ekosistem pelestarian permainan tradisional melalui pendekatan yang lebih modern dan kolaboratif.
Salah seorang penggagas kegiatan Erwan Riyadi menjelaskan, agenda tersebut sengaja dirancang sebagai tahap awal untuk mengukur respons masyarakat, terutama kalangan muda, terhadap upaya menghidupkan kembali permainan gasing.
“Ini baru permulaan. Kami ingin melihat animo masyarakat terlebih dahulu. Setelah ini akan ada agenda-agenda lanjutan dengan konsep yang lebih besar dan lebih matang,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan mengangkat kembali permainan tradisional tidak bisa dilakukan oleh satu komunitas saja. Dibutuhkan keterlibatan banyak pihak agar gasing mampu berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan identitas budayanya.
Karena itu, sejak kegiatan perdana, penyelenggara melibatkan Duta Budaya, komunitas gasing, pemerhati budaya, komunitas kreatif, hingga pelaku usaha. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun gerakan pelestarian budaya yang lebih luas.
“Kolaborasi sudah mulai terlihat malam ini. Ada Duta Budaya, para pemain gasing, pemerhati budaya, komunitas lintas bidang, hingga pelaku usaha. Kalau sinergi ini berjalan efektif, tentu hasilnya akan jauh lebih baik. Tujuan akhirnya adalah membawa gasing Kutai ke level yang lebih tinggi,” katanya.
Ke depan, kegiatan serupa tidak akan terpaku di satu lokasi. Meski Kopi Komunitas menjadi tempat pertama yang membuka ruang bagi kegiatan budaya tersebut, penyelenggara berharap semakin banyak kafe maupun ruang publik yang bersedia menjadi mitra.
Konsep kegiatan yang berpindah-pindah lokasi diyakini mampu memperluas jangkauan promosi sekaligus memperkenalkan permainan tradisional kepada masyarakat yang lebih luas.
“Harapannya nanti bukan hanya Kopi Komunitas yang mendukung. Tempat-tempat lain juga bisa ikut berpartisipasi sehingga kegiatan ini terus bergulir dengan konsep yang beragam,” ujar.
Tak hanya gasing, penyelenggara juga telah menyiapkan rencana pengembangan berbagai permainan tradisional Kutai lainnya seperti logo, sumpit, ketapel hingga bempas. Namun seluruh program akan dijalankan secara bertahap dengan menjadikan gasing sebagai proyek percontohan (role model).
“Kalau pengembangan gasing berhasil, permainan tradisional lainnya akan lebih mudah dikembangkan menggunakan pola yang sama,” tambahnya.
Lebih jauh, pihaknya memiliki visi agar gasing tidak lagi dipandang sebagai permainan tradisional yang hanya muncul dalam festival budaya. Sebaliknya, permainan tersebut diharapkan menjadi aktivitas yang bisa dimainkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan, mereka telah menggagas pembangunan arena bermain gasing yang dikelola secara modern dan profesional. Konsepnya mengadopsi pengelolaan olahraga modern seperti padel, di mana masyarakat dapat menyewa arena dan perlengkapan untuk bermain kapan saja.
Dengan konsep tersebut, gasing diharapkan mampu berkembang menjadi bagian dari industri olahraga rekreasi sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui penyelenggaraan kompetisi, penyewaan fasilitas, hingga pengembangan wisata budaya.
“Kami ingin gasing bukan hanya menjadi simbol kecintaan terhadap budaya, tetapi menjadi aktivitas yang hidup di tengah masyarakat. Ketika itu terwujud, pelestarian budaya akan berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkasnya.
Langkah tersebut diharapkan menjadi titik awal transformasi gasing Kutai, dari sekadar warisan budaya menjadi identitas daerah yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus mampu menciptakan ruang kolaborasi, inovasi, dan peluang ekonomi bagi masyarakat Kutai Kartanegara.
(Yeni A.Y)

