Portalsembilan.com, Kutai Kartanegara – Saat perayaan Natal dan Tahun Baru semakin mendekat, dinamika pasar telur di Pasar Mangkurawang, Tenggarong, menunjukkan fenomena yang menarik: harga telur justru naik lebih tinggi dibandingkan periode Lebaran, namun tingkat penjualan tidak mengalami lonjakan berarti dan tetap stabil seperti bulan-bulan biasanya. Ini diungkapkan oleh Yulia, seorang penjual telur yang telah menggeluti bisnis ini selama lebih dari 10 tahun di pasar tersebut, ketika ditemui di lapaknya pada hari Senin (8/12/2025). Dengan pengalaman lebih dari satu dekade, Yulia mengungkapkan bahwa pola ini telah terjadi hampir setiap tahun dan menjadi bagian dari ritme pasar tradisional di Kutai Kartanegara.
Dengan keterampilan yang terlatih, Yulia menyusun tumpukan keranjang telur di lapaknya sambil melayani pembeli yang datang satu per satu. Ia menjelaskan bahwa meskipun perayaan Natal dan Tahun Baru biasanya dianggap sebagai momen di mana permintaan komoditas pokok meningkat, kondisi di pasar telur justru berbeda.
“Sama saja. Penjualannya sama seperti bulan-bulan biasanya,” ujar Yulia dengan nada yang tenang, sambil memberikan perhatian pada seorang pembeli yang meminta untuk memilih telur segar. Ia menambahkan bahwa tidak ada tanda-tanda peningkatan pembelian yang signifikan, bahkan meskipun banyak masyarakat yang membutuhkan telur sebagai bahan pokok untuk membuat kue Natal dan hidangan perayaan.
Yang lebih menarik, Yulia menyatakan bahwa harga telur pada bulan Desember ini lebih tinggi dibandingkan harga yang ada selama periode Lebaran momen di mana permintaan telur biasanya melonjak drastis.
“Harga meningkat. Ini lebih mahal kalau Natal daripada Lebaran,” ungkapnya, menyebutkan bahwa saat ini harga telur berkisar antara 19 ribu hingga 20 ribu rupiah per setengah kilogram. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga ini terjadi meskipun permintaan tidak meningkat, yang menunjukkan bahwa dinamika pasar ini dipengaruhi oleh faktor lain selain konsumsi rumah tangga.
“Kalau Lebaran, permintaan banyak jadi harga naik, tapi sekarang permintaan sama aja tapi harga malah lebih mahal. Itu yang bikin unik,” tambahnya.
Menurut Yulia, perbedaan permintaan antara Natal dan Lebaran sangat terasa. Selama Lebaran, ia mengatakan, permintaan telur bisa meningkat hingga dua kali lipat dari rata-rata, karena banyak digunakan untuk membuat hidangan lebaran seperti opor ayam, rendang, dan kue kering. Namun, menjelang Natal dan Tahun Baru, permintaan hanya sedikit meningkat atau bahkan tetap sama seperti biasa.
“Peningkatan paling terasa itu saat Lebaran. Kalau Natal dan Tahun Baru tidak terlalu berubah,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa sebagian besar pembeli menjelang Natal hanya membeli telur sesuai kebutuhan harian atau sedikit lebih banyak untuk membuat kue, tapi tidak sampai tingkat yang membuat penjualan melonjak.
Meskipun harga naik tanpa peningkatan permintaan, Yulia memastikan bahwa konsumen tetap membeli telur. Ia mengatakan bahwa masyarakat telah terbiasa dengan fluktuasi harga telur selama bertahun-tahun, sehingga mereka tetap membeli secukupnya tanpa terganggu oleh kenaikan harga.
“Tetap ada yang cari. Orang butuh telur untuk masak sehari-hari, jadi meskipun harganya naik, mereka tetap harus beli,” ujarnya. Ia juga menjelaskan bahwa ia selalu menjaga pasokan telur agar tidak kehabisan, meskipun harga naik, karena ia tahu bahwa telur adalah bahan pokok yang tidak bisa dihindari oleh masyarakat.
Dengan lebih dari 10 tahun pengalaman berjualan di Pasar Mangkurawang, Yulia telah menyaksikan berbagai perubahan tren pasar telur. Ia menilai bahwa pola harga naik tanpa peningkatan permintaan menjelang Natal telah terjadi hampir setiap tahun, dan ini menjadi bagian dari ritme pasar tradisional di Kukar.
“Setiap tahunnya hampir sama. Jadi saya sudah terbiasa dan selalu siap mempersiapkan stok meskipun harga naik,” katanya. Ia menjelaskan bahwa fenomena ini biasanya dipengaruhi oleh faktor distribusi dan pasokan, seperti masalah pengangkutan telur dari peternak ke pasar atau penurunan jumlah telur yang dihasilkan oleh peternak pada periode tertentu.
Yulia juga menyatakan bahwa informasi tentang dinamika pasar telur ini menjadi wawasan penting bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang mempersiapkan kebutuhan menyambut perayaan akhir tahun.
“Kalau orang tahu harga naik tapi penjualan tetap sama, mereka bisa mempersiapkan kebutuhan dengan lebih baik beli secukupnya saja agar tidak kehabisan atau terbebani biaya,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa pasar tradisional seperti Pasar Mangkurawang tetap menjadi sentra informasi penting mengenai harga dan ketersediaan komoditas pokok di daerah, karena pedagang di sana selalu mengetahui kondisi pasar secara langsung.
Sebagai penjual yang telah lama di dunia, Yulia berharap bahwa harga telur akan kembali normal setelah masa perayaan berakhir. Ia juga berharap bahwa peternak dan pemerintah bisa bekerja sama untuk menjaga stabilitas pasokan telur, sehingga harga tidak fluktuatif terlalu banyak dan tetap terjangkau bagi masyarakat.
“Kita semua menginginkan harga yang stabil dan pasokan yang cukup. Semoga tahun depan, kondisi pasar telur bisa lebih baik,” pungkas Yulia, sambil memberikan keranjang telur yang telah dibeli oleh seorang pembeli dengan senyum ramah.
(Yeni Adhayanti)

