Portalsembilan.com, Kutai Kartanegara – Rumah Budaya Kutai (RBK) kembali menjadi ruang belajar hidup bagi generasi muda melalui kegiatan kunjungan edukatif yang diikuti pelajar SMPIT Insan Cendikia Boarding School, Rabu (04/02/2026). Kegiatan ini dirancang sebagai sarana pembelajaran kontekstual untuk mengenalkan sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya daerah Kutai secara langsung kepada peserta didik.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkaya metode pembelajaran di luar kelas, dengan menghadirkan pengalaman nyata yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga menyentuh aspek praktik dan interaksi. Para siswa diajak mengenal warisan budaya Kutai mulai dari sejarah singkat kebudayaan daerah, ragam alat musik tradisional, hingga permainan rakyat yang sarat makna sosial.
Dalam suasana yang interaktif dan penuh antusiasme, para pelajar diperkenalkan pada berbagai alat musik tradisional Kutai yang memiliki nilai historis dan filosofis. Tidak sekadar melihat, siswa juga mendapat penjelasan mengenai fungsi, makna simbolik, serta peran alat musik tersebut dalam kehidupan masyarakat Kutai pada masa lalu hingga kini. Keunikan bunyi dan bentuk alat musik tradisional itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta.
Selain itu, kegiatan dilanjutkan dengan praktik permainan tradisional daerah. Aktivitas ini disambut dengan keceriaan para siswa yang tampak menikmati proses belajar sambil bermain. Melalui permainan tradisional, peserta didik tidak hanya memperoleh hiburan, tetapi juga belajar tentang nilai kebersamaan, kerja sama, sportivitas, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Guru pendamping SMPIT Insan Cendikia Boarding School, Rahmat Hidayat, S.Pd, yang turut menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa kunjungan edukatif ke Rumah Budaya Kutai memberikan dampak positif bagi perkembangan karakter siswa.
“Pembelajaran seperti ini sangat penting. Anak-anak tidak hanya menerima materi di kelas, tetapi juga melihat, menyentuh, dan merasakan langsung budaya daerahnya. Antusiasme mereka sangat terlihat, dan pengalaman ini tentu akan membekas,” ungkapnya.
Menurut Rahmat, keberadaan Rumah Budaya Kutai sangat strategis sebagai mitra dunia pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda. Di tengah arus modernisasi yang begitu kuat, ruang-ruang edukasi berbasis budaya seperti RBK dinilai mampu menjadi penyeimbang sekaligus penguat identitas daerah.
Pihak sekolah juga menyampaikan apresiasi kepada pengelola Rumah Budaya Kutai atas kesempatan belajar dan pendampingan yang diberikan kepada para siswa. Kunjungan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Kutai serta mendorong peserta didik untuk turut berperan dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah.
Melalui kegiatan edukatif yang berkelanjutan, Rumah Budaya Kutai terus memposisikan diri sebagai pusat pembelajaran budaya yang terbuka bagi pelajar dan masyarakat luas. RBK tidak hanya menjadi tempat mengenal masa lalu, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai budaya sebagai bekal membangun karakter dan masa depan generasi penerus.
(Yeni Adhayanti)

