Portalsembilan.com, Kutai Kartanegara – Kegiatan Retreat Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2026 resmi dibuka pada hari Rabu (21/01/2026), bertempat di Coconut Beach Samboja, dengan menghadirkan sebanyak 25 peserta dari berbagai media di Kutai Kartanegara dan Samarinda terdiri dari 13 wartawan perempuan dan 12 wartawan laki-laki.
Dalam sambutan pembukaan yang disampaikan mewakili Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim Muhammad Faisal menegaskan bahwa profesi jurnalis saat ini menghadapi tantangan besar yang muncul di tengah gelombang disrupsi media digital, di mana aliran informasi bergerak dengan kecepatan luar biasa dan setiap orang dapat dengan mudah menjadi produsen konten berita.
Menurut Faisal, era digital telah mengubah lanskap industri pers secara drastis. Media massa profesional saat ini tidak hanya bersaing ketat dengan sesama media yang telah berjalan lama, tetapi juga harus bersaing dengan berbagai aktor baru seperti akun media sosial yang menyebarkan informasi secara instan, kelompok buzzer yang beroperasi dengan berbagai tujuan, hingga news influencer yang mampu menjangkau khalayak luas dalam hitungan detik namun tidak selalu memperhatikan kaidah jurnalistik yang baik, prinsip kejujuran, dan etika profesi.
“Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar bagi seluruh insan pers dan lembaga media di Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur. Kita harus mencari cara bagaimana media yang legal, memiliki kompetensi yang mumpuni, dan menjalankan praktik jurnalistik yang beretika tetap dapat menjaga relevansinya serta dipercaya oleh masyarakat di tengah banjir informasi instan yang kadang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” ujar Faisal dalam sambutannya yang penuh makna.
Pembuka menyampaikan bahwa tema yang diangkat dalam retreat tahun ini, yaitu “Jurnalis Masa Kini di Tengah Disrupsi Media dan Turbulensi Ekonomi Daerah”, sangat kontekstual dan sesuai dengan kondisi yang tengah dihadapi oleh dunia pers dan pembangunan daerah saat ini. Menurutnya, perubahan teknologi yang terjadi dengan sangat cepat tidak hanya menuntut perubahan dalam cara berpikir dan cara bekerja bagi para jurnalis, tetapi juga menjadi tantangan besar dalam hal bertahan hidup bagi industri pers yang telah lama menjadi pilar penting dalam kehidupan demokrasi dan pembangunan negara.
Faisal juga menekankan bahwa kegiatan retreat ini bukan sekadar agenda rutin untuk berkumpul dan bersilaturahmi, melainkan harus menjadi ruang refleksi mendalam dan introspeksi bagi setiap jurnalis untuk menata kembali arah profesi yang mereka geluti, serta memperkuat peran dan kontribusi mereka dalam masyarakat. Ia menegaskan bahwa interaksi aktif antara narasumber yang akan membawakan berbagai materi penting dengan seluruh peserta menjadi kunci utama agar kegiatan retreat ini benar-benar memberikan manfaat yang nyata dan bermakna bagi perkembangan profesi jurnalisme di Kalimantan Timur.
“Kita berharap melalui acara ini, para peserta dapat memperoleh wawasan baru, berbagi pengalaman praktis di lapangan, serta merumuskan langkah-langkah konkret untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada. Retreat harus menjadi tempat di mana kita bersama-sama merenungkan masa depan pers dan bagaimana kita dapat berkontribusi lebih baik bagi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Di sisi lain, Kepala Diskominfo Kaltim juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga relasi yang sehat dan saling menghargai antara tiga pilar utama, yaitu media massa, pemerintah daerah, dan dunia usaha. Menurutnya, menyampaikan hal-hal positif tentang perkembangan daerah tidak berarti menjadikan media sebagai corong kekuasaan atau alat promosi semata, tetapi merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem informasi yang seimbang dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
“Kita harus memahami bahwa dinamika informasi memiliki dampak yang sangat besar terhadap perkembangan ekonomi daerah. Jika sebuah daerah terus-menerus diberitakan dengan berita-berita negatif tanpa adanya keseimbangan dengan informasi tentang potensi, peluang, dan perkembangan positif yang terjadi, maka investor bisa jadi akan enggan untuk masuk dan berkontribusi dalam pembangunan daerah. Akibatnya, ekonomi daerah akan melemah, dan pada akhirnya, industri pers sendiri juga akan terdampak karena pertumbuhan iklan dan kemampuan masyarakat untuk mengkonsumsi produk media akan menjadi terbatas,” ungkapnya dengan tatapan yang penuh perhatian.
Faisal menyampaikan harapannya bahwa retreat JMSI Kaltim Tahun 2026 dapat menjadi tonggak penting dalam mengembangkan kapasitas insan pers di Kalimantan Timur, menghasilkan generasi jurnalis yang memiliki cara berpikir yang lebih jernih, mampu beradaptasi dengan cepat terhadap berbagai perubahan yang terjadi, serta memiliki semangat bertahan yang kuat di tengah berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks.
Setelah sambutan pembukaan selesai, kegiatan retreat resmi dimulai dengan sesi pembekalan materi pertama yang membahas tentang strategi jurnalisme di era digital dan bagaimana mengelola konten yang tidak hanya menarik tetapi juga memiliki nilai jurnalistik yang tinggi. Kegiatan yang akan berlangsung selama dua hari ke depan diharapkan dapat menjadi ruang belajar yang produktif serta tempat bagi para wartawan untuk saling bertukar pikiran dan tumbuh bersama sebagai profesional yang berkomitmen untuk menjaga integritas dan peran penting pers dalam masyarakat.
(Yeni Adhayanti)

