Portalsembilan.com, Kutai Kartanegara – Saat perayaan Natal dan Tahun Baru 2025 semakin mendekat, salah satu bahan pokok dapur yang menjadi sorotan adalah bawang merah. Pantauan di Pasar Mangkurawang, salah satu pasar tradisional terpenting di Tenggarong, menunjukkan bahwa harga bawang merah telah mengalami kenaikan sejak dua minggu terakhir bahkan sejak awal November. Namun, meskipun harga melambung, tingkat pembelian masyarakat ternyata tetap stabil, tidak menunjukkan perubahan signifikan seperti yang biasanya terjadi menjelang hari besar. Ini diungkapkan oleh Miatun, seorang pedagang bawang dan bumbu dapur yang telah menggeluti bisnis ini selama lebih dari tiga dekade, ketika ditemui di lapaknya pada hari Senin (8/12/2025).
Dengan pengalaman Miatun telah menyaksikan berbagai perubahan tren harga dan belanja masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga bawang merah mulai terasa sejak awal November lalu, sementara harga bawang putih tetap stabil.
“Yang putih stabil, merah yang enggak. Merah banyak naiknya. Sudah dua minggu ini naik, mulai bulan kemarin, November,” ujar Miatun dengan nada yang tenang, sambil menyusun tumpukan bawang merah segar di lapaknya. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga ini tidak hanya terjadi di Pasar Mangkurawang, tetapi juga di pasar lain di Tenggarong menunjukkan bahwa ini adalah fenomena yang meluas di daerah.
Yang menarik, meskipun harga bawang merah naik, Miatun menegaskan bahwa jumlah pembelian dari masyarakat tidak mengalami penurunan atau peningkatan yang berarti. Permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru, menurutnya, tidak jauh berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya.
“Malah aja stabil aja, heeh,” katanya ketika ditanya apakah ada lonjakan pembelian karena perayaan. Bahkan ketika dibandingkan dengan momen Ramadan dan Lebaran di mana permintaan bahan pokok biasanya meningkat signifikan Miatun menyebut pola belanja masyarakat relatif sama.
“Kayaknya enggak sih. Sama aja. Keperluan orang banyak ya agak banyak, tapi tetap stabil,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa masyarakat tampaknya sudah terbiasa dengan fluktuasi harga bawang merah, sehingga mereka tetap membeli secukupnya tanpa terganggu oleh kenaikan harga.
Sebagai pedagang yang telah lama di dunia, Miatun mengaku tidak secara rinci menghitung jumlah penjualan kilogram per hari. Ia mengatakan bahwa fluktuasi pembeli yang tidak menentu kadang ramai, kadang sepi membuatnya sulit untuk membuat perhitungan akurat.
“Kadang ramai, kadang sepi, enggak mesti. Saya enggak pernah hitung,” katanya. Namun, dari pengalaman hariannya, ia merasa bahwa jumlah penjualan bawang merah tetap sama seperti biasa, meskipun harga naik. Ia menambahkan bahwa banyak pelanggan yang telah menjadi pelanggan tetap selama bertahun-tahun, sehingga mereka tetap datang membeli meskipun harga berubah.
Selain menjual bawang merah dan bawang putih segar, Miatun juga menyediakan bumbu basah dan bawang goreng yang menjadi pilihan praktis bagi pelanggan yang tidak punya waktu untuk memotong bawang sendiri. Ia mendapatkan pasokan dagangannya langsung dari penjual lokal di Tenggarong, yang membuat stoknya tetap aman meski harga tidak selalu stabil.
“Saya beli dari penjual lokal, jadi stoknya enggak pernah habis. Cuma harga yang kadang naik, kadang turun tergantung pasokan dari petani,” jelasnya. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga bawang merah ini sebagian besar disebabkan oleh penurunan pasokan dari petani, yang mungkin dipengaruhi oleh kondisi cuaca atau masalah pengangkutan.
Miatun juga menyatakan bahwa meskipun kondisi pasar tidak mengalami lonjakan permintaan yang berarti, kenaikan harga bawang merah tetap menjadi perhatian bagi masyarakat karena berpengaruh pada biaya belanja rumah tangga.
“Bawang merah itu bahan pokok, semua orang butuh. Kalau harganya naik, biaya belanja hariannya juga naik. Ini pasti bikin orang cemas, tapi mereka tetap harus beli,” ujarnya. Ia berharap bahwa harga bawang merah dapat kembali normal setelah masa perayaan berakhir, sehingga masyarakat tidak terlalu terbebani dengan biaya belanja.
Dengan kondisi penjualan yang stabil, pasar tradisional seperti Pasar Mangkurawang tetap menjadi barometer kebutuhan dapur masyarakat Tenggarong. Pedagang seperti Miatun tidak hanya menjadi penjual, tetapi juga saksi perubahan tren belanja selama puluhan tahun, sekaligus menjadi sumber informasi penting mengenai dinamika harga bahan pokok di daerah.
“Pasar tradisional ini masih dibutuhkan orang, karena harga lebih terjangkau dan barangnya segar. Kita sebagai pedagang cuma mau jaga ketersediaan barang dan berbicara jujur tentang harga kepada pelanggan,” pungkas Miatun, sambil memberikan bawang merah yang telah dibeli oleh seorang pelanggan dengan senyum ramah.
(Yeni Adhayanti)

