Portalsembilan.com, Kutai Kartanegara – Memasuki bulan Desember, ketika kebutuhan daging untuk perayaan Natal dan Tahun Baru mulai meningkat dan banyak komoditas pangan mengalami kenaikan harga, sektor peternakan babi di Tenggarong menunjukkan pola yang unik. Berbeda dengan daging ayam atau sapi yang cenderung melonjak di pasaran menjelang hari besar, seorang peternak lokal mengungkapkan bahwa harga jual babi di daerahnya tetap stabil tidak terpengaruh oleh momentum keagamaan, melainkan lebih ditentukan oleh kondisi peternak dan perkembangan hewan itu sendiri, Senin (8/12/2025).
Ketika ditemui di kawasan pemeliharaannya di Tenggarong, peternak bernama Gemima menjelaskan bahwa fluktuasi harga babi bukanlah sesuatu yang terikat dengan musim.
“Enggak tentu Harga tetap, enggak naik meskipun menjelang Natal atau Tahun Baru. Semuanya tergantung pembelinya dan kondisi ternak kita sendiri,” ujar Gemima dengan nada yang tenang. Ia menambahkan bahwa meskipun banyak orang berasumsi permintaan akan melonjak menjelang hari raya, kenyataannya permintaan babi cenderung berfluktuasi dan tidak selalu meningkat secara signifikan membuat harga tetap terjaga.
Penentuan harga, menurut Gemima didasarkan pada dua faktor utamaberat badan dan usia ternak.
“Untuk babi yang masih kecil, sekitar 40 kilogram, harga bisa mencapai Rp100.000 per kilogram. Karena dia masih dalam masa pertumbuhan, kita butuh biaya pakan yang lebih banyak untuk bikin dia besar. Jadi harganya lebih mahal meskipun beratnya kecil,” jelasnya. Sebaliknya, babi yang sudah mencapai ukuran besar biasanya umur lebih dari 7 bulan dijual dengan harga yang lebih rendah, sekitar Rp70.000 per kilogram.
“Kalau sudah besar, beratnya lebih banyak, jadi meskipun harganya per kilo lebih murah, total penjualan tetap cukup untuk menutupi biaya dan mendapatkan keuntungan,” katanya.
Namun, Gemima mengakui bahwa harga terkadang bisa turun ketika peternak berada dalam kondisi membutuhkan dana darurat.
“Kadang orang perlu uang cepat mau beli pakan lagi, mau bayar tagihan, atau ada kebutuhan lain. Kalau begitu, kita terpaksa menurunkan harga karena pembeli juga suka menawar. Tapi itu hanya kasus khusus, bukan pola yang biasa,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa penawaran dari pembeli seringkali bergantung pada jumlah stok yang tersedia dan kebutuhan mereka tetapi meskipun demikian, harga tidak pernah turun secara drastis.
Dalam hal pasar pembeli, Gemima mengatakan bahwa pembeli datang tidak hanya dari warga Tenggarong, tetapi juga dari daerah sekitar seperti Kabupaten Kutai Barat.
“Ada yang datang langsung ke tempat pemeliharaan, ada yang pesan lewat teman. Paling jauh dari Kubar, kayaknya. Mereka biasanya beli untuk keperluan keluarga, pesta, atau dijual lagi di pasar lokal,” ujarnya. Namun, untuk tahun ini, Gemima belum menjual satu pun babinya karena seluruh ternak masih dalam fase pertumbuhan dan belum mencapai usia ideal untuk dipanen.
“Saat ini belum ada saya jual karena masih kecil. Bulan dua depan baru saya lego (siap dijual). Kalau jual sekarang, pasti rugi karena biaya pakan yang sudah dikeluarkan lebih banyak dari harga jual,” jelasnya.
Proses pemeliharaan babi sendiri membutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang tinggi. Gemima menjelaskan bahwa ia memberikan pakan yang terjangkau dan sehat, seperti dedak, ampas tahu, daun ubi, kangkung, dan nasi sisa yang masih layak konsumsi.
“Pakan dari yang sederhana aja, tapi harus segar. Kalau pakan buruk, ternak mudah sakit dan pertumbuhannya lambat. Kita tidak mau itu, kan? Karena itu akan menambah biaya lagi untuk obat,” katanya. Pembersihan kandang juga dilakukan secara teratur, dua kali sehari pagi dan sore untuk menjaga kebersihan dan mencegah terjadinya penyakit pada ternak.
“Kandang yang bersih membuat babi sehat dan cepat besar. Itu bagian dari upaya kita untuk menjaga kualitas ternak dan meminimalkan kerugian,” jelasnya.
Biaya pakan yang terus meningkat menjadi salah satu tantangan utama bagi Gemima dan peternak babi lain di Tenggarong.
“Dedak yang dulunya Rp50.000 per karung, sekarang sudah Rp70.000. Ampas tahu juga naik. Kalau begini, kita harus lebih cermat dalam mengatur biaya. Oleh karena itu, kita tidak bisa terburu-buru menjual babi yang masih kecil karena itu akan membuat kita rugi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa meskipun menghadapi tantangan ini, ia tetap berusaha menjaga kualitas ternak agar ketika dipanen, bisa dijual dengan harga yang layak.
Situasi ini menunjukkan bahwa komoditas babi memiliki pola perdagangan yang unik dan berbeda dibandingkan daging ayam maupun sapi. Sedangkan daging ayam dan sapi cenderung mengalami lonjakan permintaan dan harga menjelang hari besar keagamaan, harga babi di Tenggarong tetap stabil dan lebih ditentukan oleh faktor internal peternakan. Dengan harga yang terjaga dan upaya untuk menjaga kualitas ternak, para peternak babi di daerah itu tetap berjuang untuk bertahan dan memberikan kontribusi pada ketahanan pangan lokal.
“Nanti bulan dua, stoknya akan siap dan laku terjual. Kita harap pembeli banyak dan harga tetap baik,” pungkas Gemima dengan semangat yang optimis.
(Yeni Adhayanti)

